The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Memuat...

Selasa, 25 September 2007

Toleransi Beragama Dalam Bulan Ramadhan



Menyikapi Bulan Puasa
Untuk sebagian orang, barangkali bulan Ramadan ini merupakan bulan yang disambut dengan kurang semangat, karena kehidupan tidak berjalan normal seperti biasa, sulit mendapat makanan dan minuman. Dan sekiranya mendapatkan makanan, rasanya sungkan melakukan kegiatan makan dan minum ketika orang sekitar sedang puasa, apalagi di tempat umum.
Bagi sebagian orang lagi, barangkali bulan Ramadan ini disambut dengan sukacita. Itulah yang terjadi dengan seorang rekan saya. Hari Minggu yang lalu, pada suatu kesempatan makan siang, rekan tersebut berkata: “Bang, sebenarnya, bulan Ramadan ini harus disambut dengan sukacita”.
Ketika saya bertanya apa alasannya, dia melanjutkan: “Soalnya, kita juga bisa ikutan berpuasa. Enak melakukan puasa ketika kiri kanan kita juga melakukannya. Selama bulan Ramadhan yang lalu, saya berhasil menjalani puasa selama beberapa hari”.
Selanjutnya, dia menjelaskan kepada saya akan pentingnya puasa, bukan saja dari segi kerohanian, tapi juga dari segi kesehatan. “Dengan berpuasa, kita akan semakin sehat, racun-racun dan kotoran dalam tubuh akan terbuang”, katanya.
Setelah selesai percakapan itu, saya berpikir, sekiranya semua orang Kristen bersikap seperti rekan saya tersebut di atas, alangkah indahnya. Indah bagi saudara kita yang sedang melakukan ibadah puasa, di mana ibadah yang sedang mereka lakukan didorong dan didukung oleh sesamanya, meski berasal dari agama yang berbeda. Tetapi indah juga bagi non-Muslim itu sendiri, yang walau pun tidak diwajibkan, tetapi ikut melakukannya.

Dasar Berpuasa
Bersikap toleran terhadap sesama, memang sangat baik. Terlebih lagi di negara majemuk (pluralist) seperti Indonesia, di mana kita menemukan berbagai agama dan kepercayaan. Dalam kondisi demikian, adanya perbedaan tidak dapat dielakkan. Namun, suka tidak suka, kita tidak dapat menghindar dari perbedaan itu, kecuali kita melarikan diri dari republik ini. Jika demikian halnya, semua umat di Indonesia harus terus menerus saling mengasah dan mengasuh untuk menerima perbedaan yang ada, bukan mempertajam, apalagi mempertentangkannya. Lebih dari situ, memahaminya sebagai anugerah Tuhan bagi kita semua. Dengan demikian, menghargai perbedaan itu serta menjadikannya kekayaan kita bersama. Untuk itulah, bagi saya, sikap rekan tersebut di atas merupakan sikap yang sangat baik.
Tentu saja, jika umat Kristen melakukan puasa, alasannya, bukan sekadar ikut-ikutan. Apalah artinya ibadah jika hanya dilakukan dengan ikut-ikutan, tanpa dasar yang jelas, apalagi tanpa penghayatan yang benar? Sebenarnya, bicara soal dasar berpuasa, Alkitab mengajarkan dasar yang kuat dan jelas untuk berpuasa. Hal itulah yang dapat kita baca, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Di dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan umatNya untuk berpuasa dan menetapkan satu hari dalam setahun yang disebut dengan hari raya pendamaian. Pada hari tersebut, umatNya harus merendahkan diri di hadapan Tuhan serta tidak melakukan sesuatu pekerjaan (Baca Imamat 16:29-31;23:27-32). Demikian juga, setelah masa pembuangan ke Babel, ada empat peristiwa lainnya di mana orang-orang Yahudi mengadakan puasa tiap tahun (Zach.7:5;8:19).
Di dalam Perjanjian Baru, kata yang digunakan untuk “berpuasa” adalah “nesteuo” (kata benda, nestis), ditemukan sebanyak 21 kali. Kita melihat teladan Tuhan Yesus, yang merupakan tokoh utama, di mana pelayananNya ditopang dengan kehidupan doa dan puasa.
Itulah sebabnya, kita membaca bahwa sebelum memulai pelayananNya, Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam (Mat.4:2). Teladan Yesus tersebut diikuti oleh rasul-rasul dan umat Allah. Itulah sebabnya, setelah Tuhan Yesus naik ke surga, kita juga membaca bahwa murid-murid melanjutkan tradisi berpuasa tersebut (Kis.13:3;14:23;27:9).
Sebelum rasul Paulus dikirim bermisi ke Eropa, dokter Lukas menulis: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus...” (Kis.13:2). Orang-orang Farisi yang fanatik, berpuasa dua kali seminggu (Luk.8:12), yaitu hari Senin dan Kamis. Praktik berpuasa juga ditemukan dalam komunitas Qumran (1QpHab 11:7).
Di dalam arus materialisme dan hedonisme (paham yang menjadikan kenikmatan menjadi tujuan hidup) yang kita hadapi sekarang ini, kita umat Tuhan perlu semakin meneguhkan hati untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. Ketika Yesus sedang berpuasa, setan menggodaNya untuk membatalkan puasa tersebut. Namun, dengan tegas Tuhan Yesus menolaknya dan bersabda: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat.4:4).
Setan gagal total terhadap Tuhan Yesus. Tetapi itu tidak menjamin kemenangan umat. Dalam kenyataannya, kita mendengar dan melihat bagaimana setan berhasil menjatuhkan banyak orang. Mereka tertipu dan terjerat dengan berbagai hawa nafsu dan kenikmatan dan menyimpang dari iman yang sejati.
Tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan, serta menanggung aib yang tidak terelakkan. Tetapi kita harus menang bersama Tuhan Yesus. Untuk itu, kita perlu lebih berserah diri, berdoa dan berpuasa, agar kita semua mengalami rahasia kuasa Allah serta kenikmatan yang sejati. Selamat berpuasa bagi kita semua.

Tidak ada komentar: