The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Memuat...

Minggu, 19 Desember 2010

Gelar Teknologi Kehutanan 2010 Badan Litbang Kehutanan

GELAR TEKNOLOGI KEHUTANAN 2010
BADAN LITBANG KEHUTANAN
Universitas Lampung – Bandar Lampung dan Desa Margasari – Lampung Timur
19 – 20 Nopember 2010


Gelar Teknologi Kehutanan Badan Litbang Kehutanan tahun 2010 dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Nopember 2010 bertempat di Rektorat Universitas Lampung, Bandar Lampung dan Desa Margasari, Lampung Timur. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pelatihan dan pameran IPTEK kehutanan, yang diharapkan dapat menjadi salah satu sarana yang efektif dalam menyebarluaskan IPTEK kehutanan. Hasil IPTEK tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas, serta dapat memperoleh umpan balik dari pengguna untuk meningkatkan kualitas dan daya guna hasil-hasil litbang kehutanan di masa yang akan datang. Dengan demikian IPTEK kehutanan dapat menjadi basis solusi permasalahan aktual kehutanan untuk mendorong akselerasi pencapaian tujuan pembangunan kehutanan.

Gelar Teknologi Kehutanan Tahun 2010 diselenggarakan oleh Badan Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Pusat Hubungan Masyarakat, Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan Rektorat UNILA.

Gelar Teknologi Kehutanan Tahun 2010 diselenggarakan dalam serangkaian kegiatan Pelatihan dan Pameran IPTEK Kehutanan.

1. Materi Pelatihan IPTEK Kehutanan, terdiri atas 7 (tujuh) topik meliputi:
a. Teknologi Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor dan Alih Teknologi Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor
b. Teknologi Budidaya dan Rekayasa Produksi Gaharu
c. Teknologi Penanganan Benih Nyamplung
d. Teknologi Budidaya Lebah Madu dan Pengolahan Pasca Panen Madu
e. Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit Hutan Tanaman
f. Teknologi Pengawetan Kayu secara Sederhana
g. Pengenalan Teknologi Agrosilvofishery

2. Materi pameran Badan Litbang Kehutanan dikelompokkan menjadi 6 (enam) topik, yaitu:
a. Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
b. Perlindungan Hutan
c. Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Kayu
d. Konservasi dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
e. Perubahan Iklim dan Jasa Lingkungan
f. Publikasi Badan Litbang Kehutanan
Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat di www.dephut.go.id

Read More......

Sabtu, 18 Desember 2010

Wirausaha Online Modal Nol Rupiah


PT.Technopreneur Indonesia menawarkan program "Wirausaha Online Modal Nol Rupiah".

Yang kami tawarkan kepada anda adalah sebuah bisnis online menjadi Mitra Agen Iklan dengan sistem bagi hasil. Sistem Mitra Keagenan dapat dilakukan perseorangan. Sebagai seorang agen anda memiliki hak untuk menjual produk dan jasa kami, dengan komisi yang telah disepakati.

* Anda berhak menjual produk pemasangan iklan di website kami, dan mendapat
komisi jika pemasangan iklan tersebut adalah dari hasil referensi anda :

* www.MobilRaya.com
* Harga jual pasang iklan mobil adalah Rp 100.000, komisi untuk anda adalah
Rp 50.000,

* www.RumahRaya.com
* Harga jual pasang iklan rumah adalah Rp 100.000, komisi untuk anda adalah
Rp 50.000,

* www.AyoNikah.com
* Harga jual keanggotaan kontak jodoh adalah Rp 100.000, komisi untuk anda
adalah Rp 50.000,

Untuk bergabung/Mendaftar Silahkan Buka Salah Satu Link Dibawah ini:
http://www.ti.co.id/?mitra=sakinah2003
http://www.ayonikah.com/?mitra=sakinah2003
http://www.mobilraya.com/?mitra=sakinah2003
http://www.rumahraya.com/?mitra=sakinah2003


Bagaimana bisa modal Rp 0,- (nol rupiah) ?
Berbeda dengan bisnis Off-Line (bisnis makanan, pakaian dll) yang membutuhkan biaya. Sebaliknya produk kami, dengan produk On-Line dan sistem yang ter-Komputerisasi dan sangat effisien, tidak perlu ada biaya yang perlu dibebankan kepada anda.

Yang dimaksud modal nol rupiah adalah, anda tidak perlu membayar kepada kami sejumlah uang untuk memperoleh hak menjual produk kami. Justru kami akan membayar komisi kepada anda jika anda berhasil melakukan transaksi penjualan produk-produk kami.

Dalam menjalankan usaha menjadi agen ini setidaknya anda membutuhkan perlengkapan berikut :
- Komputer atau Laptop
- Internet (adsl, gsm, wifi, HP, warnet, apa saja asalkan koneksi internet)
- Kamera digital atau HP berkamera. (tidak harus ada)
- Printer. (tidak harus ada)
- Selanjutnya tentu skill wirausaha dan kemampuan menjual.

Apa yang saya dapat ?
Kami ingin menjalin kemitraan yang fair (adil) dan Win-Win Solution untuk kami dan anda. Tentunya kami menawarkan uang komisi yang sangat menarik 50% : 50 % untuk setiap penjualan yg terjadi atas referensi anda. Karena produk kami Online, maka telah tersedia sistem komputerisasi, sehinga setiap penjualan secara otomatis tercatat dan komisi otomatis juga ditambahkan ke dalam account anda.

Read More......

Sabtu, 14 Agustus 2010

Dashyatnya Pahala Memberi Makan Berbuka Puasa


Bulan Ramadhan benar-benar kesempatan terbaik untuk beramal. Bulan Ramadhan adalah kesempatan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang bisa dilakukan ketika itu agar menuai ganjaran yang luar biasa. Dengan memberi sesuap nasi, secangkir teh, secuil kurma atau snack yang menggiurkan, itu pun bisa menjadi ladang pahala. Maka sudah sepantasnya kesempatan tersebut tidak terlewatkan.

Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”[1]

Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air.[2]

Ath Thobari rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa yang menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar bahwa orang yang mempersiapkan segala perlengkapan perang bagi orang yang ingin berperang, maka ia akan mendapatkan pahala berperang. Begitu pula orang yang memberi makan buka puasa atau memberi kekuatan melalui konsumsi makanan bagi orang yang berpuasa, maka ia pun akan mendapatkan pahala berpuasa.”[3]

Sungguh luar biasa pahala yang diiming-imingi.

Di antara keutamaan lainnya bagi orang yang memberi makan berbuka adalah keutamaan yang diraih dari do’a orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.”[4] Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.[5]

Apalagi jika orang yang menyantap makanan tadi mendo’akan sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka sungguh rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku][6]

Tak lupa pula, ketika kita memberi makan berbuka, hendaklah memilih orang yang terbaik atau orang yang sholih. Carilah orang-orang yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Karena ingatlah harta terbaik adalah di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash,

يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

"Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih."[7]

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.[8] Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

"Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur."[9]

Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.”

Lalu bagaimanakah dengan Anda?

Read More......

ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN DALAM MEMBANGUN HUTAN KOTA

Telah dijelaskan bahwa dalam sejarah perkembangan peradabannya, manusia semula selalu bersahabat dengan alam. Rumah tempat tinggal manusia yang dekat dengan hutan, akan akrab dengan flora dan fauna. Sedangkan yang tinggal dekat dengan laut sangat akrab dengan deburan ombak, hembusan angin, hutan pantai dan bakau. Namun dengan berkembangnya pemukiman dari desa yang kecil dan sederhana menjadi kota yang besar dan kompleks mengakibatkan terjadinya pelepasan diri manusia bahkan ada kecenderungan untuk "menghancurkan" hutan. Hasilnya baru kemudian dirasakan adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Beberapa kota besar telah membangun dan mengembangkan hutan kota untuk mengantisipasi masalah tersebut di atas, namun ada juga pembangunan hutan kotanya masih dalam tarap perencanaan.
Fraksi Karya Pembangunan DPRD Tingkat I Bali pada tanggal 25 April 1991 telah mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah Daerah Tk I tentang rencana pembangunan hutan kota di propinsi Bali. Juru bicara fraksi tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa jangan sampai tanah sudah habis dibangun, baru mencari tanah untuk hutan kota (Pedoman Rakyat, 25-4-1991).
Pada tanggal 2 Mei 1990 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia juga mempertanyakan tentang realisasi pembangunan hutan kota di Jakarta. Target penghijauan di Jakarta baru terealisasi 10% saja (Kompas, 26-10-1990). Padahal menurut rencana luasan lahan yang harus dihijaukan adalah sekitar 40% dari luas 650 km2. Menurut Rencana Induk 1965-1985 (tahun 1977) luasan lahan yang harus dihijaukan di Jakarta adalah 23.750 Ha (Kompas, 26-10-1990). Pada kenyataannya taman-taman di Jakarta sebanyak 181 dari 394 taman telah berubah fungsi menjadi lokasi pedagang kaki lima, gardu listrik, pompa bensin dan kantor RW (Suara Pembaruan, 2-5-1990).
Soeriatmadja dalam Seminar Penghijauan Kota yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung dan Pikiran Rakyat menyatakan tahun 1961 kota Bandung yang luasnya 8.098 Ha terdiri dari taman alam dan buatan seluas 3.431 Ha. Namun setelah 20 tahun kemudian hanya tinggal 716 Ha saja (Suara Pembaruan, 29-1-1991). Perhitungan yang dilakukan berdasarkan pendekatan kebutuhan oksigen berdasarkan Rumus Gerakis pada tahun 1988 di Kotamadya Bandung mestinya sudah harus tersedia penghijauan sebesar 5.093,61 Ha (Ryanto, 1989).
Beberapa hambatan yang dijumpai dan sering mengakibatkan kurang berhasilnya program pengembangan hutan kota antara lain:
1. Terlalu terpaku kepada anggapan bahwa hutan kota harus dan hanya dibangun di lokasi yang cukup luas dan mengelompok.
2. Adanya anggapan bahwa hutan kota hanya dibangun di dalam kota, padahal harga lahan di beberapa kota besar sangat mahal. Harga tanah misalnya di Jakarta di kawasan Jl. Jend. Sudirman Rp. 5,5 juta/m2, di Jl. Gatot Subroto Rp. 3,5 juta/ m2 dan di kawasan Jl. Rasuna Said Rp. 2,2 juta/m2 (Suara Pembaruan, 7-11-1990).
3. Adanya konflik dari berbagai kepentingan dalam peruntukan lahan. Biasanya yang menang adalah yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Karena hutan kota tidak mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, maka lahan yang semula diperuntukkan bagi hutan kota, atau yang semula telah dibangun hutan kota, pada beberapa waktu kemudian diubah peruntukannya menjadi supermarket, real-estate, perkantoran dan lain-lain.
4. Adanya penggunaan lain yang tidak bertanggung jawab seperti:
- Bermain sepak bola,
- Tempat kegiatan a-susila,
- Tempat tuna wisma,
- Pohon sebagai tempat cantolan kawat listrik dan telepon,
- Pangkal pohon sering dijadikan sebagai tempat untuk membakar sampah,
- Sebagai tempat ditancapkannya reklame dan spanduk.
- Vandalisme dalam bentuk coretan dengan cat atau goresan dengan pisau.
- Gangguan binatang : anjing, kucing, tikus dan serangga.
Beberapa upaya penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan- hambatan tersebut di atas antara lain:
1. Hutan kota dapat dibangun pada tanah yang kosong di kawasan : pemukiman, perkantoran dan industri, tepi jalan, tikungan perempatan jalan, tepi jalan tol, tepian sungai, di bawah kawat tegangan tinggi, tepi jalan kereta api dan berbagai tempat lainnya yang memungkinkan untuk ditanami.
2. Pengukuhan hukum terhadap lahan hutan kota. Dengan demikian tidak terlalu mudah untuk merubah kawasan ini menjadi peruntukan lain.
3. Pembuatan dan penegakan sanksi bagi siapa yang menggunakan lahan hutan kota untuk tujuan-tujuan tertentu di luar peruntukannya.
4. Sanksi yang cukup berat bagi siapa saja yang melakukan vandalisme.
5. Melindungi tanaman dengan balutan karung atau membuat pagar misalnya dari bambu, agar binatangtidak mudah masuk dan merusak tanaman.
Masalah hutan kota yang paling mendasar hingga saat ini adalah : (1) dukungan dari penentu kebijakan, (2) dukungan finansial, (3) dukungan masyarakat, dan (4) tenaga ahli. Oleh karena itu untuk memperoleh keberhasilan pembangunan dan pengembangan hutan kota di Indonesia dukungan-dukungan seperti yang telah disebutkan di atas perlu disempurnakan secara sungguh-sungguh.
Ilmu hutan kota merupakan suatu disiplin ilmu yang relatif baru, namun sangat perlu dan segera harus dikembangkan, karena mempunyai keuntungan antara lain:
1. Melalui penyuluhan hutan kota kepada masyarakat dapat disampaikan tentang pentingnya menciptakan lingkungan hidup di perkotaan yang sehat, indah, bersih, nyaman dan alami, sehingga dapat dijadikan sebagai komponen pelengkap dalam mewujudkan kemajuan, ketahanan dan masa depan bangsa Indonesia. Usaha penataan kota seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kota seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya diharapkan akan berjalan lebih pesat lagi dan dapat diikuti dengan beberapa kota lainnya.
2. Turut mengembangkan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup di perkotaan.
3. Sebagai salah satu bukti nyata tentang keterlibatan disiplin ilmu kehutanan dalam memecahkan masalah lingkungan global.
4. Menciptakan lapangan kerja baru bagi sarjana kehutanan dan lulusan sekolah dibawahnya.
5. Turut serta dalam menangkal kampanye Anti Penggunaan Kayu Tropis.
6. Turut mensukseskan program kunjungan wisata ke Indonesia.
7. Mengubah persepsi masyarakat barat yang tidak tepat.
8. Membantu pemerintah dalam program udara bersih (PRODASIH)

Read More......

Jumat, 13 Agustus 2010

HUTAN KOTA DAN MANFAATNYA

Hutan kota memiliki banyak fungsi baik secara langsung maupun tidak langsung, salah satunya merupakan penyerap gas CO2 di areal perkotaan yang cukup penting, selain itu juga berfungsi sebagai pusat keindahan, Peredam Kebisingan, pelestarian plasma nuftah, sebagai habitat hewan/burung, sebagai tempat wisata dll. Dengan berkurangnya jumlah hutan di pusat kota dapat mengurangi kemampuan hutan kota dalam menyerap gas CO2 ini akan mengakibatkan suasana kota yang pengat, panas, gersan dan tidak indah.
Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.
Beberapa manfaat dari Hutan Kota adalah :
1. Hutan Kota sebagai tempat wisata
2. Pelestarian Plasma Nutfah
3. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
4. Penyerap dan Penjerap Partikel Timbal
5. Penyerap dan Penjerap Debu Semen
6. Peredam Kebisingan
7. Mengurangi Bahaya Hujan Asam
8. Penyerap Karbon-monoksida
9. Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
10. Penyerap dan Penapis Bau
11. Mengatasi Penggenangan
12. Mengatasi Intrusi Air Laut
13. Produksi Terbatas
14. Ameliorasi Iklim
15. Pengelolaan Sampah
16. Pelestarian Air Tanah
17. Penapis Cahaya Silau
18. Meningkatkan Keindahan
19. Sebagai Habitat Burung
20. Mengurangi Stress
21. Mengamankan Pantai Terhadap Abrasi
22. Meningkatkan Industri Pariwisata
23. Sebagai Hobi dan Pengisi Waktu Luang

Read More......

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN SAGU SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN DI SULAWESI SELATAN.

Tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai alternatif pangan (sumber karbohidrat) di Sulawesi Selatan dibagi dalam dua kategori yang didasarkan pada skor total yang diperoleh rensponden yaitu persepsi tinggi dan rendah. Persepsi masyarakat dinilai tinggi jika skor total yang diperoleh berkisar antara 7 – 12 sedangkan persepsi masyarakat dinilai rendah jika skor total yang diperoleh berkisar antara 0 – 6. Tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai salah satu alternatif pangan disajikan pada Tabel …. Berikut.

Lokasi

Tingkat
Persepsi Kabupaten
Luwu Kabupaten
Luwu Utara Kota
Makassar Total
N % N % N % N %
Tinggi 34 57 48 79 0 0 82 54
Rendah 26 43 13 21 30 100 69 46
60 100 61 100 30 100 151 100


Tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa secara umum tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai salah satu alternatif pangan di Sulawesi Selatan adalah tinggi. Jika dibandingkan antara persepsi masyarakat di Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara dengan Kota Makassar sangat jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara merupakan sentra penghasil sagu dimana masyarakatnya umumnya menggunakan sagu sebagai makanan pokok kedua setelah beras. Sedangkan di Kota Makassar umumnya menggunakan sagu sebagai makanan pelengkap atau salah satu variasi makanan.
Frekuensi masyarakat dalam mengkonsumsi sagu di Sulawesi Selatan berbeda-beda. Masyarakat di Kabupaten Luwu sebanyak 21 % masyarakatnya sangat sering mengkonsumsi sagu, 32 % sering dan 47 % masyarakatnya yang kadang-kadang mengkonsumsi sagu sebagai salah satu pangan pengganti beras. Masyarakat di Kabupaten Luwu Utara sebanyak 52 % yang sangat sering mengkonsumsi sagu, 43 % yang sering dan selebihnya sebanyak 5 % yang kadang-kadang mengkonsumsi sagu. Sedangkan masyarakat kota Makassar hanya 10 % saja yang sangat sering mengkonsumsi sagu, 33 % yang sering dan sebanyak 57 % yang kadang-kadang saja mengkonsumsi sagu.
Tingginya persentase masyarakat yang sangat sering mengkonsumsi sagu di Kabupaten Luwu Utara disebabkan karena sagu bagi sebagian besar masyarakat (85 %) merupakan makanan pokok mereka yang kedua setelah beras. Sedangkan masyarakat di Kabupaten Luwu hanya sekitar 35 % saja yang menjadikan sagu sebagai makan pokok kedua selain beras. Sedangkan masyarakat di Kota Makassar sesebagian kecil saja (23 % ??) yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok kedua setelah beras.
Penggunaan sagu sebagai bahan pangan dapat mempengaruhi pola konsumsi beras. Sebanyak 72 % masyarakat di Kabupaten Luwu menyatakan bahwa tingkat konsumsi beras mereka menjadi berkurang setelah mengkonsumsi sagu dalam sehari. Demikian halnya dengan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara, sebanyak 85 % juga menyatakan hal yang sama. Sedangkan bagi masyarakat di Kota Makassar umumnya (97 %) menyatakan tingkat konsumsi beras mereka tidak mengalami perubahan.
Alasan bagi masyarakat mengapa mereka mengkonsumsi sagu berbeda-beda disetiap lokasi kajian. Masyarakat di Kabupaten Luwu umumnya mereka mengkonsumsi sagu karena rasanya enak dan sudah merupakan kebiasaan secara turun temurun dengan persentase masing masing sebesar 32 %. Alasan lainnya adalah karena bahannya mudah didapat, harganya terjangkau dan sebagai pengganti nasi dengan persentase masing-masing sebesar 20 %, 3 % dan 13 %. Sedangkan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara umumnya mereka mengkonsumsi sagu karena rasanya enak (33 %), bahan baku mudah didapat (26 %), harganya terjangkau (11 %), dapat dijadikan sebagai pengganti nasi (20 %), dan karena kebiasaan (10 %). Masyarakat di Kota Makassar umumnya mengkonsumsi sagu karena rasanya enak, (87 %), harganya terjangkau (7 %), factor kebiasaan (3 %), dan sebagai pengganti nasi (3 %).
Jika suatu saat terjadi krisis beras, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Luwu (75 %) dan Luwu Utara (100 %) menyakatakan bahwa sagu dapat dijadikan sebagai alternative pangan pengganti beras. Sedangkan bagi masyarakat di Kota Makassar hanya 10 % yang menyatakan hal tersebut di atas.
Sebanyak 63 % masyarakat di Kabupaten Luwu telah melakukan upaya diversifikasi dalam pengolahan. Demikian halnya dengan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara sebanyak 88 % telah melakukan diversifikasi produk sagu. Sedangkan konsumen di kota makassar hanya sekitar 10 % saja yang telah melakukan upaya diversifikasi produk. Produk sagu yang umumnya dikonsumsi oleh masyarakat yang berfungsi sebagai pengganti nasi adalah kapurung dan dange.

Read More......

Jumat, 30 Oktober 2009

Para Pemimpin Uni-Eropa Harus Membantu SBY Melindungi Hutan Indonesia


Riau, Indonesia — Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk berukuran 20x50 meter dengan gambar wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy di lahan gambut yang baru saja dhancurkan di Sumatra. Kegiatan ini dilakukan menjelang konferensi pemimpin Uni-Eropa yang akan dimulai tanggal 29 Oktober 2009 di Brussels, Belgia. Aksi ini di Indonesia menandai peluncuran rangkaian kegiatan di Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Riau yang diharapkan memancing perhatian para pemimpin dunia akan pentingnya melindungi hutan sebagai langkah penting mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menghindari perubahan iklim.

“Uni Eropa mengakumulasi utang karbon historisnya dengan memicu deforestasi dan penghancuran hutan di luar negara mereka. Saatnya kini para pemimpin Uni Eropa bertanggung jawab untuk berkomitmen memberi bantuan dana publik dalam jumlah yang sepadan untuk mencegah hilangnya hutan tropis yang tersisa.” tegas Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Indonesia memiliki laju deforestasi tertinggi diantara negara-negara yang memiliki hutan di dunia dan menjadi contoh nyata perlunya rencana matang yang didukung dengan dana bantuan internasional untuk melindungi hutan tropis. Dimotori permintaan pasar dunia terhadap produk kertas dan minyak kelapa sawit, sejak 1950 lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah sepenuhnya hancur, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat.

Kehancuran lahan gambut di Indonesia saja bertanggungjawab atas 4% emisi global gas rumah kaca hasil tindakan manusia, menjadikan Indonesia negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina. Tingginya emisi tersebut disebabkan oleh dua alasan – pesatnya laju deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut. Lahan gambut di Asia Tenggara diperkirakan menyimpan 42 milyar ton karbon dan sekitar 80% atau 35 milyar ton dari jumlah tersebut tersimpan di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia mewakili hanya kurang dari 0,1% dari luas tanah di bumi namun bertanggung jawab akan 1,8 milyar ton emisi per tahun.

Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, serta pulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia. Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus meningkat.

Pada pertemuan negara-negara G20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono berkomitmen mengurangi emisi karbon Indonesia sebesar 26% pada tahun 2020 – meningkat ke angka 41% dengan dukungan internasional. Dengan melakukan ini, Presiden menunjukkan kemauan keras dan kepemimpinan yang kuat dari Indonesia. Semangat ini sangat dibutuhkan untuk membantu dunia menghindari kekacauan iklim.

“Sebagai Presiden dari negara dengan hutan tropis terbesar yang tersisa, kata-kata Presiden Yudhoyono adalah harapan untuk jutaan orang yang sudah menderita akan dampak perubahan iklim. Agar beliau dapat mengubah komitmennya menjadi tindakan, beliau membutuhkan bantuan finansial dari negara-negara maju untuk mewujudkan komitmennya. Para pemimpin Uni-Eropa harus menunjukkan sikap kepemimpinan seperti Presiden Yudhoyono dan berikan dukungan nyata terhadap sesuatu yang mereka percayai, dengan segera memberikan dana” jelas Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

Bagi Greenpeace, dukungan Uni-Eropa harus ditunjukkan setidaknya dengan komitmen yang jelas dari para pemimin Uni Eropa untuk:

*
Mendukung pengembangan pendanaan global untuk iklim dibawah Perjanjian Iklim UNFCCC, dijalankan oleh mekanisme finansial baru yang kuat dan mengikat secara hukum yang akan menggerakkan setidaknya 30 milyar Euro dari pendanaan publik per tahun untuk periode 2013-2020, ditujukan untuk pembiayaan pengembangan dan implementasi rencana nol deforestasi di negara-negara tropis.
*
Meniadakan skema kredit pertukaran-emisi pada hutan (forest offset) dari pasar karbon internasional – REDD harus menjadi tambahan untuk pengurangan emisi dalam negeri dari negara-negara Annex 1 dan tidak boleh menciptakan kerugian untuk perubahan yang diperlukan menuju ekonomi masa depan yang rendah karbon.
*
Mempromosikan tujuan membawa laju deforestasi hutan tropis menuju angka nol sebelum 2020 – Upaya untuk mengurangi namun tidak mengakhiri deforestasi tropis tidak hanya akan memperpanjang masalah, namun juga tidak akan menghadirkan hasil yang diperlukan untuk menghindari bahaya perubahan iklim, kepunahan spesies dan kehancuran ekosistem.
*
Mengutamakan perlindungan hutan alam seutuhnya (REDD), dan meniadakan subsidi untuk kegiatan hutan untuk industri (REDD+) yang akan mengancam keanekaragaman hayati dan kesatuan ekologi, serta seringkali menjadi jalan untuk tindak deforestasi. Sangatlah penting untuk memastikan pendanaan publik untuk REDD tidak digunakan untuk subsidi perkebunan tanaman industri (“HTI”), penebangan kayu di hutan tropis dan konversi hutan alam menjadi perkebunan.
*
Menyatakan secara jelas bahwa masa depan mekanisme REDD dikeluarkan dan dirancang untuk berkontribusi terhadap tujuan Perjanjian PBB terhadap Keanekaragaman Hayati. Dampak terhadap keanekaragaman hayati harus secara eksplisit dipertimbangkan dalam segala tata cara, peraturan dan kegiatan REDD.

Read More......