The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Memuat...

Peluang dan Kesempatan Usaha Yang Menjanjikan, http://www.penghasilancepat.com/?id=zaimakassar

:::BIOLIFE CENTRE::: Bisnis MLM terbaru dengan system terbaik Biolife Centre adalah merk e-commers dari PT ECHELON PRIMA NIAGA yang merupakan Rekanan PT ECHELON dari Singapur serta salah satu perusahaan Farmasi yang bergerak di bidang perdagangan produk-produk herbal yang berpusat di Malaysia SATU SATUNYA MLM DI INDONESIA YG MEMBERIKAN TRIPLE MACHING BONUS. SALAH SATU DARI TRIPLE MATCHING BONUS TERSEBUT ADALAH " BONUS MATCHING CROSSLINE " SATU SYSTEM YANG TIDAK AKAN ANDA TEMUKAN DI MLM LAIN . LUANGKAN SEJENAK WAKTU ANDA UNTUK MEMBACA MARKETING PLAN DAN PRODUK YANG KAMI TAWARKAN .BERGABUNG ATAU TIDAK...ANDA YANG MEMUTUSKAN. Apa Kelebihan Biolifecentre???? Produk yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau Sistem Bonus yang adil dan menguntungkan dengan perhitungan bonus realtime yang dapat di akses lewat member area serta dapat melihat pohon perkembangan jaringan, nyaris tidak ada resiko yang terjadi di kemudian hari, karena anda dapat mengontrol seluruh aktifitas bisnis anda setiap detik, menit, atau kapanpun, karena transapransi jaringan dan bonusnya di akses secara realtime . Untuk lebih jelasnya Silahkan buka&lihat website ini : http://www.penghasilancepat.com/?id=zaimakassar.

Jumat, 30 Oktober 2009

Para Pemimpin Uni-Eropa Harus Membantu SBY Melindungi Hutan Indonesia


Riau, Indonesia — Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk berukuran 20x50 meter dengan gambar wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy di lahan gambut yang baru saja dhancurkan di Sumatra. Kegiatan ini dilakukan menjelang konferensi pemimpin Uni-Eropa yang akan dimulai tanggal 29 Oktober 2009 di Brussels, Belgia. Aksi ini di Indonesia menandai peluncuran rangkaian kegiatan di Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Riau yang diharapkan memancing perhatian para pemimpin dunia akan pentingnya melindungi hutan sebagai langkah penting mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menghindari perubahan iklim.

“Uni Eropa mengakumulasi utang karbon historisnya dengan memicu deforestasi dan penghancuran hutan di luar negara mereka. Saatnya kini para pemimpin Uni Eropa bertanggung jawab untuk berkomitmen memberi bantuan dana publik dalam jumlah yang sepadan untuk mencegah hilangnya hutan tropis yang tersisa.” tegas Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Indonesia memiliki laju deforestasi tertinggi diantara negara-negara yang memiliki hutan di dunia dan menjadi contoh nyata perlunya rencana matang yang didukung dengan dana bantuan internasional untuk melindungi hutan tropis. Dimotori permintaan pasar dunia terhadap produk kertas dan minyak kelapa sawit, sejak 1950 lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah sepenuhnya hancur, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat.

Kehancuran lahan gambut di Indonesia saja bertanggungjawab atas 4% emisi global gas rumah kaca hasil tindakan manusia, menjadikan Indonesia negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina. Tingginya emisi tersebut disebabkan oleh dua alasan – pesatnya laju deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut. Lahan gambut di Asia Tenggara diperkirakan menyimpan 42 milyar ton karbon dan sekitar 80% atau 35 milyar ton dari jumlah tersebut tersimpan di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia mewakili hanya kurang dari 0,1% dari luas tanah di bumi namun bertanggung jawab akan 1,8 milyar ton emisi per tahun.

Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, serta pulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia. Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus meningkat.

Pada pertemuan negara-negara G20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono berkomitmen mengurangi emisi karbon Indonesia sebesar 26% pada tahun 2020 – meningkat ke angka 41% dengan dukungan internasional. Dengan melakukan ini, Presiden menunjukkan kemauan keras dan kepemimpinan yang kuat dari Indonesia. Semangat ini sangat dibutuhkan untuk membantu dunia menghindari kekacauan iklim.

“Sebagai Presiden dari negara dengan hutan tropis terbesar yang tersisa, kata-kata Presiden Yudhoyono adalah harapan untuk jutaan orang yang sudah menderita akan dampak perubahan iklim. Agar beliau dapat mengubah komitmennya menjadi tindakan, beliau membutuhkan bantuan finansial dari negara-negara maju untuk mewujudkan komitmennya. Para pemimpin Uni-Eropa harus menunjukkan sikap kepemimpinan seperti Presiden Yudhoyono dan berikan dukungan nyata terhadap sesuatu yang mereka percayai, dengan segera memberikan dana” jelas Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

Bagi Greenpeace, dukungan Uni-Eropa harus ditunjukkan setidaknya dengan komitmen yang jelas dari para pemimin Uni Eropa untuk:

*
Mendukung pengembangan pendanaan global untuk iklim dibawah Perjanjian Iklim UNFCCC, dijalankan oleh mekanisme finansial baru yang kuat dan mengikat secara hukum yang akan menggerakkan setidaknya 30 milyar Euro dari pendanaan publik per tahun untuk periode 2013-2020, ditujukan untuk pembiayaan pengembangan dan implementasi rencana nol deforestasi di negara-negara tropis.
*
Meniadakan skema kredit pertukaran-emisi pada hutan (forest offset) dari pasar karbon internasional – REDD harus menjadi tambahan untuk pengurangan emisi dalam negeri dari negara-negara Annex 1 dan tidak boleh menciptakan kerugian untuk perubahan yang diperlukan menuju ekonomi masa depan yang rendah karbon.
*
Mempromosikan tujuan membawa laju deforestasi hutan tropis menuju angka nol sebelum 2020 – Upaya untuk mengurangi namun tidak mengakhiri deforestasi tropis tidak hanya akan memperpanjang masalah, namun juga tidak akan menghadirkan hasil yang diperlukan untuk menghindari bahaya perubahan iklim, kepunahan spesies dan kehancuran ekosistem.
*
Mengutamakan perlindungan hutan alam seutuhnya (REDD), dan meniadakan subsidi untuk kegiatan hutan untuk industri (REDD+) yang akan mengancam keanekaragaman hayati dan kesatuan ekologi, serta seringkali menjadi jalan untuk tindak deforestasi. Sangatlah penting untuk memastikan pendanaan publik untuk REDD tidak digunakan untuk subsidi perkebunan tanaman industri (“HTI”), penebangan kayu di hutan tropis dan konversi hutan alam menjadi perkebunan.
*
Menyatakan secara jelas bahwa masa depan mekanisme REDD dikeluarkan dan dirancang untuk berkontribusi terhadap tujuan Perjanjian PBB terhadap Keanekaragaman Hayati. Dampak terhadap keanekaragaman hayati harus secara eksplisit dipertimbangkan dalam segala tata cara, peraturan dan kegiatan REDD.

Read More......

Senin, 06 Juli 2009

Pilih Hutan, Pilih untuk Masa Depan Kita!


Jika hutan yang tersisa diperlakukan sama, pemerintah yang akan datang tidak hanya akan bersalah dalam melakukan kejahatan terhadap lingkungan dan mengambil hak 40 juta masyarakat yang bergantung pada hutan akan tempat tinggal dan penghidupan mereka, pemerintah ini juga akan bersalah karena melakukan kejahatan iklim, yang dampaknya jauh melewati batas-batas negara Indonesia.

Pemilihan Presiden pada tanggal 8 Juli adalah kesempatan dan sekaligus ancaman. Kesempatan bagi kandidat yang berhasil, untuk membantu Indonesia untuk mendapatkan keuntungan dari pendanaan perlindungan hutan dan energi bersih, dan ancaman bagi jutaan lagi orang Indonesia yang akan merasakan dampak pengrusakan hutan selanjutnya dan memburuknya perubahan iklim.

Beberapa bulan terakhir Greenpeace telah menghubungi tim sukses ketiga kandidat, dengan tujuan mendorong mereka untuk mengambil tindakan untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan deforestasi.

Pada saat kampanye pemilihan Presiden bulan lalu, Jusuf Kalla telah meminta bantuan Greenpeace untuk menarik pendanaan dari negara maju untuk melindungi hutan yang diakuinya hampir habis. Megawati Soekarnoputri telah membicarakan masalah moratorium deforestasi dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengatakan apa-apa. Namun Presiden Yudhoyono berjanji untuk menghentikan deforestasi pada saat kampanye pemilihan legislatif di Magelang, bulan April lalu.

Sejauh ini kita hanya mendengar kata-kata manis dan janji kosong, tapi tidak ada rencana tindakan untuk mengatasi masalah yang menjadi kunci bagi selamatnya ekonomi dan masyarakat Indonesia dan juga penting bagi usaha global dalam memerangi pemanasan global.

Greenpeace mengunjungi stasiun-stasiun TV dan kampanye pilpres untuk memerankan debat kandidat dengan tim Presiden versinya sendiri, untuk mendorong kandidat sebenarnya untuk serius dalam menghadapi perubahan iklim dan deforestasi.

Para pemimpin dunia akan membuat keputusan penting pada pertemuan iklim PBB di Kopenhagen Desember mendatang untuk melindungi hutan dunia. Negara-negara maju menjanjikan milyaran dolar untuk perlindungan hutan di Indonesia. Tetapi Indonesia harus menunjukkan komitmennya untuk dapat menerima uang ini. Ini berarti mendeklarasikan moratorium pada berlanjutnya deforestasi demi memberi waktu dan ruang yang diperlukan untuk penerapan sistem baru yang memastikan uang perlindungan hutan diterima oleh yang paling membutuhkannya.

Presiden yang terpilih nanti mempunyai kesempatan besar dan tanggung jawab yang lebih besar lagi untuk mengamankan masa depan kita dan menghentikan pengrusakan hutan Indonesia yang sama saja seperti bunuh diri.

Ini adalah kesempatan terakhir sebelum kita memilih, dan mengetahui siapa Presiden yang memiliki rencana tindak lanjut untuk melindungi hutan dan berkomitmen melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Hutan kita adalah warisan dan jaminan keamanan bagi anak cucu kita serta generasi selanjutnya.

Mari beraksi dan Kirimkan email kepada calon presiden Indonesia!

* Ini adalah kesempatan terakhir sebelum kita memilih, dan mengetahui siapa Presiden yang memiliki rencana tindak lanjut untuk melindungi hutan dan berkomitmen melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Dukung kami!

* Yup, Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace.

Read More......

Rabu, 01 Juli 2009

ASEAN harus Hentikan Batubara untuk Hindari Malapetaka Iklim


Bali, Indonesia — Greenpeace hari ini menghimbau kepada negara-negara ASEAN untuk segera mengurangi pembangkit tenaga listrik batubara dan berinvestasi pada energi terbarukan untuk menghindari malapetaka iklim, di akhir pertemuan ASEAN Forum On Coal (AFOC) ke tujuh di Bali. Beberapa aktivis Greenpeace membentangkan spanduk dengan tulisan “Quit Coal” di pintu masuk Padma Hotel di Legian selama acara penutupan.
Saat ini ASEAN terus tergantung pada batubara yang membawa kawasan menuju percepatan perubahan iklim dengan dampak seperti kekeringan, banjir dan kelaparan akibat berkurangnya hasil pertanian yang mengancam kehidupan ratusan juta orang. Pada pertemuan itu membicarakan perluasan penggunaan batubara, ASEAN seharusnya saat ini mulai menyepakati rencana untuk keluar dari pemanfaatan batubara dan beralih pada ekonomi yang rendah karbon

Laporan terbaru dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan program lingkungan untuk Asia Tenggara (EEPSEA) mengidentifikasi bahwa Asia Tenggara adalah satu di antara kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. ADB memperkirakan setidaknya kawasan ini akan kehilangan enam atau tujuh persen pendapatan tahunan atas dampak perubahan iklim di akhir abad ini jika tidak ada tindakan untuk mengatasi perubahan iklim. Di samping biaya ekonomi dan iklim dari batubara, Indonesia baru saja memperingatkan adanya biaya kemanusiaan dari bencana di Sawahlunto, Sumatera Barat yang menelan nyawa 31 petambang.

Jika dihitung, emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar fosil ini bisa lebih dari setengah dari seluruh emisi gas rumah kaca Indonesia sekarang dan akan terus meningkat di tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang diambil. Negara-negara ASEAN perlu untuk memikirkan kembali strategi mereka untuk memilih cara penggunaan, memproduksi, menyimpan dan mendistribusikan energi yang secara pasti akan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Negara-negara anggota ASEAN memiliki banyak sumberdaya energi terbaharui dan harus segera mengembangkannya. Sebagai contoh, Indonesia memiliki cadangan energi geothermal terbesar di dunia dan bisa menyediakan 9,5 gigawatt energi hingga tahun 2025. Namun saat ini kurang dari lima persen sumber panas bumi bangsa ini digunakan. Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia dan ASEAN untuk meningkatkan sasaran pada energi terperbaharui, terutama panas bumi, angin, tenaga surya dan micro-hydro serta mengembangkan produk hukum dan peraturan yang selama ini jadi hambatan terbesar dalam investasi di bidang energi terperbaharui.

Pemerintah Filipina telah membuat undang-undang energi terperbaharui di akhir tahun 2008, yang membawa negara itu pada energi bersih di masa mendatang yang akan membawa keuntungan ekonomi selama negara memotong emisi karbonnya.

Satu-satunya solusi yang akan menjauhkan kita dari malapetaka iklim dan memberikan kita masa depan hanyalah dengan pemanfaatan yang lebih besar pada energi diperbaharui, mengurangi bertahap penggunaan batubara dan berhenti merencanakan nuklir, digabungkan dengan pelaksanaan program-program efisiensi energi dalam skala besar. Negara-negara ASEAN perlu menunjukkan bahwa kawasan ini serius menangani perubahan iklim, saatnya mengkritisi pembicaraan iklim di Copenhagen, Desember tahun ini.

Read More......

Perubahan Iklim


Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya – yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.

Kita sudah mengetahui sebagian dari akibat pemanasan global ini – yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena dampak paling besar – Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.

Selama bertahun-tahun kita telah terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara, gas bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan. Greenpeace percaya bahwa hanya dengan langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal didalamnya.

Sebagai sebuah organisasi global berskala internasional, Greenpeace memusatkan perhatian kepada mempengaruhi kedua pihak yaitu masyarakat dan para pemegang keputusan atas bahaya dibalik penambangan dan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil. Sebagai organisasi regional, Greenpeace Asia Tenggara memusatkan perhatian sebagai saksi langsung atas akibat dari perubahan iklim global, dan meningkatkan kesadaran publik tentang masalah yang sedang berlangsung. Greenpeace SEA juga berusaha mengupayakan perubahan kebijakan penggunaan energi di Asia Tenggara di masa depan – yaitu beranjak dari ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil kearah sumber-sumber energi yang terbarukan, bersih dan berkelanjutan.

Taktik Kampanye Iklim dan Energi adalah mengkonfrontasi tantangan yang dimiliki industri berbahan bakar yang berasal dari fosil – terutama, pembangkit listrik pembakar-batubara dan penghasil energi berbasis-nuklir – sementara, di waktu yang sama menyuarakan dan mendorong solusi atas ketergantungan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil. Sebagai contoh, GreenpeaceSEA mempromosikan kebijakan dan proyek yang dapat menghasilkan energi murah berasal dari angin dan energi matahari, dan advokasi terhadap efisiensi energi alternatif.

Read More......

Apa yang harus dilakukan para penguasa!

Greenpeace
Para aktivis Greenpeace memakai topeng dengan dua sisi muka yang berbeda guna menunjukkan sifat Departemen Kehutanan yang bermuka dua. Para aktivis memegang bibit pohon di satu tangan dan gergaji mesin di tangan lainnya guna menunjukkan bagaimana pemerintah di satu sisi memfasilitasi penggundulan hutan sementara di sisi lain mendorong kegiatan penanaman pohon, Jakarta, 6 Agustus 2008.

Para aktivis Greenpeace menunjukkan bagaimana pemerintah di satu sisi memfasilitasi penggundulan hutan sementara di sisi lain mendorong kegiatan penanaman pohon.
Besarkan Gambar

Seluruh pemerintahan di dunia dan kalangan industri harus melindungi hutan hujan tropis yang tersisa sebelum semuanya terlambat demi menyelamatkan iklim, masyarakat pemilik dan yang hidup di sekitar hutan serta keanekaragaman hayati.

Kami meninginkan penghentian deforestasi di hutan hujan tropis tersisa pada tahun 2015

Beberapa cara untuk menghentikannya:

1) Pelarangan pembalakan dan pengrusakan lahan gambut

Indonesia : Moratorium atau jeda sementara seluruh konversi hutan dan lahan gambut.

2) Membeli minyak kelapa sawit dari produksi perkebunan yang bertanggung jawab

Baik pemasok maupun pengguna minyak sawit harus menghentikan pembelian dari perusahaan yang tidak mendukung moratorium atau jeda sementara atas alih fungsi hutan dan lahan gambut.

3) Perjanjian Iklim Internasional

* Bagi negara-negara yang ingin mendapatkan dana dari perdagangan karbon, seperti Papua Nugini, harus bersungguh-sungguh menghentikan deforestasi pada tahun 2015. Mereka harus mengambil langkah nyata penghentian pembalakan ilegal dan merusak.
* Tahap lanjut Protokol Kyoto harus menghentikan deforestasi untuk mengurangi emisi global gas rumah kaca. Kami menuntut komitmen yang mengikat secara hukum dengan target dan karena waktu yang tegas.
* Proses dari Protokol Kyoto harus mengadopsi usulan Greenpeace berjudul ‘Forest for Climate’ guna melindungi hutan serta hak-hak dan penghidupan masyarakat adat.

Read More......

Kehancuran Hutan Menyebabkan Perubahan Iklim

Greenpeace SEA-Indonesia

Forest fires burn in Riau Province, Sumatra, Indonesia, releasing huge amounts of carbon dioxide. Deforestation accounts for around one fifth of global greenhouse gas emissions. Indonesia is the world's third largest climate polluter, due in part to rampant destruction of peatland forests for palm oil plantations.

Kebakaran hutan di Propinsi Riau meyumbang emisi gas rumah kaca. Deforestasi tak terkendali di Indonesia mendudukan Indonesia sebagai negara pencemar terbesar ketiga di dunia.

Pengundulan hutan atau deforestasi melepas gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah sangat besar, menyumbang terjadinya perubahan iklim yang berbahaya.

Hutan tropis menyimpan karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spons/busa, hutan tropis menyerap karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fossil sebagai sumber energi.

Kita membutuhkan hutan dengan luasan besar untuk 'meredam' dan melawan perubahan iklim dan menjaga bumi. Tetapi yang terjadi kita melakukan sebaliknya. Kita Menghancurkan Hutan.

Pengerusakan hutan menyumbang 20% dari emisi GRK setiap tahun. Dan lebih banyak lagi emisi yang dihasilkan dari seluruh dunia seperti dari mobil, truk, kereta, kapal dan pesawat di 2004.

Di Indonesia, hutan rawa gambut lenyap akibat pembalakan, pengeringan dan di bakar untuk perluasan kelapa sawit. Lahan gambu ini (kadang-kadang hinggakedalaman 12 meter) menyimpan karbon yang sangat besar. Ketika mereka di keringakn dan di bakar akan menjadi sebuah bom karbon, melepaskan hampir dua milliyar ton karbondioksida berbahaya setiap tahun.

Foto-foto ini menceritakan bagaimana perluasan kelapa sawit di Indonesia dapat menyumbang perubahan iklim :

Berkat pengundulan hutan dan lahan gambut, Indonesia menjadi negara pencemar polusi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Cina. Dari 85% emisi yang dihasilkan Indonesia, emisi bersumber dari penghancuran hutan dan konversi lahan gambut

Di Papua Nugini, sekita 83% dari hutan yang dapat diolah secara kormesial lenyap atau menyusut pada tahun 2021 jika laju pembalakan terus dilakukan (1). Hutan tersisa di papua nugini menyimpan dua kali lipat emisi yang di hasilkan di seluruh yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil di tahun 2004. Penebangan hutan telah melepaskan emisi GRK dan berkontribusi meningkatkan GRK di atmosfir
Apa yang harus kita lakukan

Untuk menghentikan perubahan iklim. Pembalakan dan pengerusakan hutan di hentikan dengan tujuan penghentian pengerusakan hutan tropis duni pada tahun 2015.

(1) Shearman et al, The State of the Forests of Papua New Guinea, University of Papua New Guinea (2008), available 18/8/08 at UPNG Remote Sensing Centre.

Read More......

Kamis, 18 Juni 2009

LITBANG KEHUTANAN KEMBANGKAN KAYU LAPIS SAWIT

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan mengembangan penggunaan batang kayu sawit yang sudah tidah produktif lagi untuk dijadikan kayu lapis. Penggunaan batang sawit sebagai bahan baku industri kayu lapis ini memiliki keuntungan ganda, pertama bisa memanfaatkan limbah menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi. Kedua, solusi mencegah terus berlanjutnya degradasi alam karena dengan adanya bahan baku dari non kehutanan, maka penebangan kayu di hutan alam akan berkurang.

Pengembangan kayu lapis sawit ini cukup menjanjikan karena potensi bahan baku batang sawit cukup besar, diperkirakan hasil replanting sebesar 25 juta m3/tahun. Pengembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan secara pesat. Pada tahun 1998 luas tanaman perkebunan sawit telah mencapai lebih dari 2,63 juta ha, sedangkan pada tahun 2003 luas perkebunan sawit telah mencapai lebih dari 4,93 juta ha. Data tersebut menunjukkan bahwa perluasan kebun sawit nasional dalam periode tersebut mencapai lebih dari 400.000 ha per tahun.

Saat ini telah dilakukan kerjasama Litbang Kehutanan dengan PT INHUTANI IV Riau dengan melakukan ujicoba pemanfaatan batang sawit untuk venir dan kayu lapis di pabrik PT Asia Forestama Raya, Rumbai, Riau. Kerjasama tersebut merupakan pioner dalam komersialisasi kayu sawit, sehingga hasil yang diperoleh akan menjadi dasar kebijakan dalam penyusunan prosedur pemanfaatan batang sawit dan mekanisme pengembangan industri kayu sawit. Bahan sawit yang digunakan dalam ujicoba terdiri dari dua kelas umur, yaitu tanaman sawit umur 22 dan 25 tahun, dengan volume kayu masing-masing 60m3 dan 40 m3. Kedua kelompok tanaman ini berasal dari areal perkebunan PTP Nusantara V, Riau.

Beberapa catatan hasil ujicoba tersebut yaitu :
1.Batang sawit dapat dimanfaatkan untuk pembuatan panel kayu lapis dengan
menggunakan fasilitas konvensional yang terdapat pada industri kayu lapis.
2.Percobaan produksi venir kayu menghasilkan rendemen venir basah dan kering,
masing-masing sebesar 67% dan 36%.
3.Perlakukan pemadatan (densifikasi) pada struktur venir kayu sawit dapat
mengurangi volume kayu sawit hingga 50%.
4.Rendemen venir maupun panel kayu lapis sawit lebih rendah dibandingkan
dengan rendemen produksi kayu dari hutan tanaman maupun kayu dari hutan rakyat.
5.Peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam pembuatan venir dan panel kayu
lapis sawit dapat dilakukan melalui beberapa modifikasi pada mesin dan
peralatan produksi.
6.Produk kayu lapis sawit memiliki nilai ekonomi relatif baik dibandingkan dengan
produk serupa yang terbuat dari kayu hutan tanaman.
7.Produksi venir dan kayu lapis sawit secara komersial perlu melibatkan pihak
perkebunan sebagai pemilik bahan baku. Hal ini perlu diperhatikan guna
memperoleh kepastian pasokan bahan baku, menghindari gangguan pihak ketiga,
serta minimasi biaya bahan baku.

Read More......