The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Sabtu, 24 November 2007

Keawetan Jenis-Jenis Kayu Sulawesi Terhadap Penggerek Di Laut!!!!!

Beberapa hasil penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa sebagian besar jenis-jenis kayu yang dipasang di laut mendapat serangan berat dari penggerek di laut. Nilai rata-rata intensitas serangan tertinggi adalah 96% setelah ditranformasikan ke dalam nilai arcsin √% = 78.463 dan nilai persentase intensitas serangan terkecil adalah 0. Maka nilai selang masing-masing kelima kelas sama dengan 78.463 – 0 dibagi dengan 5. Berdasarkan klasifikasi ini, diperoleh sebaran kelas keawetan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi keawetan jenis-jenis kayu Sulawesi terhadap penggerek di laut.
Kelas Intensitas serangan Selang intensitas serangan
I < 15.692 Sangat tahan
II 15.692 – 31.384 Tahan
III 31.384 – 47.076 Sedang
IV 47.076 – 62.768 Buruk
V > 62.768 Sangat Buruk

Adanya perbedaan intensitas serangan tersebut dikarenakan adanya perbedaaan daya tahan dan sifat kimia kayu pada tiap jenis kayu. Dari intensitas serangan pada kayu ternyata bersifat relatif, tergantung pada jenis penggerek yang menyerangnya. Kayu yang mendapat serangan berat dari suatu jenis penggerek, belum tentu mendapat serangan yang sama oleh penggerek yang lain. Adapaun hasil klasifikasi keawetan dari jenis-jenis kayu yang telah diteliti dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Kelas Keawetan Beberapa Jenis Kayu Sulawesi Terhadap Penggerek Di Laut
No. Jenis Kayu Nama Daerah Berat Jenis Intensitas Serangan Kelas Awet
% Arcsin V%
1. Acacia mangium Willd. Mangium 0.73 67 54.938 IV
2. Ailathus integrifolia Lamp. - 0.38 95 77.090 V
3. Ailanthus malabarican D.C. Kirontasi 0.38 95 77.090 V
4. Alstonia pneumatophora Bakh. Pulai Rawang 0.34 93 74.658 V
5. Calophyllum soulattri Burm. Mengkakal 0.54 73 58.693 IV
6. Cananga oderata Hook et Th. Wafut 0.33 73 58.693 IV-V
7. Canarium commune L. Kenari 85 67.213 V
8. Colona scabra Burr. Bunu 0.40 96 78.463 V
9. Diospyros celebica Bakh. Eboni 0.92 23 28.658 II
10. Diospyros macrophylla Bl. Maurula 0.60 83 65.650 V
11. Diospyros pilosanthera Blanco Kayu hitam Prm. 0.80 70 56.790 IV
12. Diploknema oligomera H.J.L. Kandole 1.12 0 0 I
13. Dracontomelon dao Merr.et Rolfe. Kaili 0,63 73 58.693 IV
14. Dracontomelon mangiferum BI. Rau 0.58 66 54.331 IV
15. Durio zibethinus Merr. Durian 0.57 73 58.693 IV
16. Drypetes longifolia Pax et Hoff. Buniyaga 0.78 56 48.446 IV
17. Elaecarpus deglupta BI. - 0.57 85 67.213 V
18. Elmerrilia ovalis Dandy. Uru 0.43 85 67.213 V
19. Ficus nervosa Heyne. Beringin 0.30 95 77.079 V
20. Ficus pubinervis BI. Beringin 0.42 76 60.700 IV
21. Homalium foetidum Benth. Petion 0.76 50 45.000 III
22. Hopea dolosa V.SI. 1.13
23. Intsia bijuga O. Ktze. Sekka 0.63 75 60.000 IV
24. Kallapia celebica Kosterm. Kalapi 0.64 50 45.000 III
25. Koordersiodendron pinnatum Merr. Kelembiring 0.83 80 63.435 V
26. Mangifera foetida Lour Mangga Hutan 0.73 70 56.789 IV
27. Mangifera minor BI. Merantaipa 0.63 66 54.330 IV
28. Metrosideros petiolata Kds. Kayu Besi 1.15 0 0 I
29. Octomeles sumatrana Miq. Starka 0.33 86 68.027 V
30. Palaguium obtusifolium Burok. Hantu 0.56 80 63.435 V
31. Parinari corimbosa Miq. Kolaka 0.96 23 28.658 II
32. Pinus merkusii Jungh etde Vr. Pinus 0.55 93 74.658 V
33. Pomitia pinnata Forst. Matoa 0.77 65 53.729 IV
34. Pterocarpus indicus Willd. Sono Kembang 0.65 45 42.130 III
35. Pterosepermum celebicum Miq. Wayu 0.44 90 71.565 V
36. Schleichera olesa Merr. Kesambi 1.01 40 39.231 III
37. Shorea koordersii Brandis. Damar Tenang 0.50 63 52.535 IV
38. Spondias cytherea Sonn. Kedondong 0.33 83 67.213 V
39. Tarrietia javanica BI. Melapisan 0.74 70 56.789 IV
40. Tectona grandis L.f. Jati 0.65 25 30.000 II
41. Toona sureni Merr. Suren 0.39 95 77.079 V
42. Vitex cofassus Reinw.. Bitti 0.74 20 26.565 II
43. Xylopia malayana Hook f. et Th. Medang Suhu 0.63 80 63.435 V


Hasil klasifikasi keawetan beberapa jenis kayu Sulawesi yang telah diteliti dari tabel 2 di atas dan sebagai pembanding dicantumkan pula kelas awet setiap jenis menurut klasifikasi Oey Djoeng Seng (1964). Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 43 jenis kayu tersebut yang telah diuji, hanya 2 jenis atau 4,65% saja yang termasuk kelas awet I yaitu Kandole (Diploknema oligomera H.J.L.), Ulin (Eusidiroxylon zwageri T.et B.). Selanjutnya ada 4 jenis atau 9,30% yang termasuk kelas awet II yaitu Eboni (Diospyros celebica Bakh.) ,Kolaka (Parinari corimbosa Miq.) ,Jati (Tectona grandis L.f.), Bitti (Vitex cofassus Reinw.) .Sebagian besar lainnya yaitu 4 jenis atau 9,30% termasuk kelas awet III, 13 jenis atau 30,23% termasuk kelas awet IV dan 20 jenis tau 46,51% termasuk kelas V. Untuk jenis-jenis kayu yang termasuk kelas III, IV, dan V dalam pemakaian yang bersentuhan dengan air laut harus diawetkan terlebih dahulu supaya umur pakainya bertambah panjang (Barly dan Abdurrochim, 1996).
Kebanyakan penggerek yang menyerang contoh uji hanya dari golongan Mollusca dan tidak ditemukan dari golongan Crustacea. Ini disebabkan pemasangan semua contoh uji dalam keadaan terendam air laut, sedangkan serangan dari jenis Crustacea hanya pada batas permukaan pasang surut (Atwood dan Johnson, 1924). Dari hasil identifikasi jenis penggerek yang telah dilakukan diketemukan jenis penggereknya yaitu Martesia striata Linne dari famili Pholadidae, Teredo bartchi Clapp., Dicyathifer manni Wright., dan Bankia cieba Clench/Turner dari famili Teredinidae. Untuk mengetahui jenis dari famili Pholadidae dapat dikenali dari struktur cangkuknya, sedangkan untuk famili Teredinidae dapat dilihat dari bentuk paletnya. Masing-masing juga mempunyai tanda serangan yang berbeda pada kayu.

Tidak ada komentar: