The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Memuat...

Rabu, 31 Oktober 2007

Kalua Bukan Yang Muda Siapa Lagi.....!

"Kalau tidak sekarang kapan? Kalau bukan kita, siapa?" Itulah kalimat yang diucapkan John F. Kennedy ketika ia dan adiknya, Robert F. Kennedy, akhirnya memutuskan ikut pemilihan presiden Amerika Serikat.
Muda, cerdas, serta memiliki kata-kata yang mampu membangkitkan nasionalisme, JFK langsung memesona jutaan warga Paman Sam. Sejarah kemudian mengenal JFK sebagai presiden termuda di AS.
Pada 79 tahun lalu, sekumpulan pemuda negeri ini mentakbirkan sumpah yang kemudian menjadi koridor pergerakan menuju merdeka. Sumpah itu, memang bukan semata tentang kesamaan bahasa, bangsa dan tanah air, tapi pada kesamaan nasib bahwa bangsa yang terjajah dan terpecah-belah tidak akan pernah mencapai tujuannya. Mereka adalah orang-orang muda yang cerdas serta berkeyakinan teguh tentang nasionalisme. Sejarah kemudian mencatatnya dalam pojok gemilang Indonesia.
Gerakan orang muda di Indonesia, begitu kata Dawam Rahardjo, seperti gelombang laut yang mencapai pantai. Bergemuruh diawal, namun perlahan hilang tak berbekas. Gerakan itu pandai menghanyutkan dan membongkar yang terlintasinya tapi setelah itu gagal menciptakan bangunan baru.
Begitulah, gemuruh gerakan itu beberapa kali terjadi sejak negeri ini merdeka. Sebut saja dua periode yang signifikan seperti tahun 1966 dan 1998. Kala itu, ribuan orang muda berbalut jaket almamater bergelombang meneriakkan tuntutan. Sejarah kemudian mencatatnya dalam pojok gemilang Indonesia.
Kini, kemana suara itu? Pertanyaan ini membuncah tatkala panggung politik nasional seperti kehabisan tenaga mencari pemimpin baru. Dua tahun menjelang pemilu, sejumlah muka lama tiba-tiba muncul dan ingin berebut puncak. Sialnya mereka bukan lagi orang muda, tapi orang-orang tua yang seolah hendak mengadu lagi keampuhannya dalam gelanggang pimpinan nasional.
Benar adanya, soal usia bukanlah penentu seseorang masuk dalam barisan tua atau muda. Soalnya adalah visi dan paradigma baru, tapi itulah yang tidak terlihat. Gaya berpolitik lama, yang bersandarkan diri pada pencitraan dan mobilisasi dukungan masih kental terasa.
Tapi siapakah orang muda yang akan tampil? Inilah pertanyaannya. Mereka yang dulu bersama dalam gelombang teriakan tuntutan kini hilang dan larut dalam sistem yang justru mereka tentang. Masuk dalam mesin birokrasi serta cepat menjadi tua.
Sejatinya, kesadaran akan tampilnya pemimpin dari kaum muda, kembali merebak seiring dengan peringatan sumpah pemuda kali ini. Apalagi reformasi yang hampir memasuki satu dekade, seolah tak jua membuat kehidupan anak negeri beranjak jauh, kalau tidak mau dikatakan lebih parah. Itu sebabnya berharap pada munculnya pemimpin dari kaum muda menjadi penting. Paradigma baru bagaimana mestinya berpolitik dan berkehidupan sosial harus kembali ditakbirkan. Peluang itu pasti ada.
"Jadi kalau tidak sekarang kapan? Kalau bukan orang muda lantas siapa?"

Tidak ada komentar: