The first, I say, welcome to my blog.I think that my blog still thin from what hope, but as me, It is My star.Because I hope criticism, coming and gidance from all friends.Before, I say thank you very much to You for visiting and all criticisms by me.Bravo for All!.

Search Engine

Tampilkan postingan dengan label Hasil Penelitian LItbang Kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasil Penelitian LItbang Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN SAGU SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN DI SULAWESI SELATAN.

Tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai alternatif pangan (sumber karbohidrat) di Sulawesi Selatan dibagi dalam dua kategori yang didasarkan pada skor total yang diperoleh rensponden yaitu persepsi tinggi dan rendah. Persepsi masyarakat dinilai tinggi jika skor total yang diperoleh berkisar antara 7 – 12 sedangkan persepsi masyarakat dinilai rendah jika skor total yang diperoleh berkisar antara 0 – 6. Tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai salah satu alternatif pangan disajikan pada Tabel …. Berikut.

Lokasi

Tingkat
Persepsi Kabupaten
Luwu Kabupaten
Luwu Utara Kota
Makassar Total
N % N % N % N %
Tinggi 34 57 48 79 0 0 82 54
Rendah 26 43 13 21 30 100 69 46
60 100 61 100 30 100 151 100


Tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa secara umum tingkat persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan sagu sebagai salah satu alternatif pangan di Sulawesi Selatan adalah tinggi. Jika dibandingkan antara persepsi masyarakat di Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara dengan Kota Makassar sangat jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara merupakan sentra penghasil sagu dimana masyarakatnya umumnya menggunakan sagu sebagai makanan pokok kedua setelah beras. Sedangkan di Kota Makassar umumnya menggunakan sagu sebagai makanan pelengkap atau salah satu variasi makanan.
Frekuensi masyarakat dalam mengkonsumsi sagu di Sulawesi Selatan berbeda-beda. Masyarakat di Kabupaten Luwu sebanyak 21 % masyarakatnya sangat sering mengkonsumsi sagu, 32 % sering dan 47 % masyarakatnya yang kadang-kadang mengkonsumsi sagu sebagai salah satu pangan pengganti beras. Masyarakat di Kabupaten Luwu Utara sebanyak 52 % yang sangat sering mengkonsumsi sagu, 43 % yang sering dan selebihnya sebanyak 5 % yang kadang-kadang mengkonsumsi sagu. Sedangkan masyarakat kota Makassar hanya 10 % saja yang sangat sering mengkonsumsi sagu, 33 % yang sering dan sebanyak 57 % yang kadang-kadang saja mengkonsumsi sagu.
Tingginya persentase masyarakat yang sangat sering mengkonsumsi sagu di Kabupaten Luwu Utara disebabkan karena sagu bagi sebagian besar masyarakat (85 %) merupakan makanan pokok mereka yang kedua setelah beras. Sedangkan masyarakat di Kabupaten Luwu hanya sekitar 35 % saja yang menjadikan sagu sebagai makan pokok kedua selain beras. Sedangkan masyarakat di Kota Makassar sesebagian kecil saja (23 % ??) yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok kedua setelah beras.
Penggunaan sagu sebagai bahan pangan dapat mempengaruhi pola konsumsi beras. Sebanyak 72 % masyarakat di Kabupaten Luwu menyatakan bahwa tingkat konsumsi beras mereka menjadi berkurang setelah mengkonsumsi sagu dalam sehari. Demikian halnya dengan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara, sebanyak 85 % juga menyatakan hal yang sama. Sedangkan bagi masyarakat di Kota Makassar umumnya (97 %) menyatakan tingkat konsumsi beras mereka tidak mengalami perubahan.
Alasan bagi masyarakat mengapa mereka mengkonsumsi sagu berbeda-beda disetiap lokasi kajian. Masyarakat di Kabupaten Luwu umumnya mereka mengkonsumsi sagu karena rasanya enak dan sudah merupakan kebiasaan secara turun temurun dengan persentase masing masing sebesar 32 %. Alasan lainnya adalah karena bahannya mudah didapat, harganya terjangkau dan sebagai pengganti nasi dengan persentase masing-masing sebesar 20 %, 3 % dan 13 %. Sedangkan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara umumnya mereka mengkonsumsi sagu karena rasanya enak (33 %), bahan baku mudah didapat (26 %), harganya terjangkau (11 %), dapat dijadikan sebagai pengganti nasi (20 %), dan karena kebiasaan (10 %). Masyarakat di Kota Makassar umumnya mengkonsumsi sagu karena rasanya enak, (87 %), harganya terjangkau (7 %), factor kebiasaan (3 %), dan sebagai pengganti nasi (3 %).
Jika suatu saat terjadi krisis beras, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Luwu (75 %) dan Luwu Utara (100 %) menyakatakan bahwa sagu dapat dijadikan sebagai alternative pangan pengganti beras. Sedangkan bagi masyarakat di Kota Makassar hanya 10 % yang menyatakan hal tersebut di atas.
Sebanyak 63 % masyarakat di Kabupaten Luwu telah melakukan upaya diversifikasi dalam pengolahan. Demikian halnya dengan masyarakat di Kabupaten Luwu Utara sebanyak 88 % telah melakukan diversifikasi produk sagu. Sedangkan konsumen di kota makassar hanya sekitar 10 % saja yang telah melakukan upaya diversifikasi produk. Produk sagu yang umumnya dikonsumsi oleh masyarakat yang berfungsi sebagai pengganti nasi adalah kapurung dan dange.

Read More......

Kamis, 18 Juni 2009

LITBANG KEHUTANAN KEMBANGKAN KAYU LAPIS SAWIT

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan mengembangan penggunaan batang kayu sawit yang sudah tidah produktif lagi untuk dijadikan kayu lapis. Penggunaan batang sawit sebagai bahan baku industri kayu lapis ini memiliki keuntungan ganda, pertama bisa memanfaatkan limbah menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi. Kedua, solusi mencegah terus berlanjutnya degradasi alam karena dengan adanya bahan baku dari non kehutanan, maka penebangan kayu di hutan alam akan berkurang.

Pengembangan kayu lapis sawit ini cukup menjanjikan karena potensi bahan baku batang sawit cukup besar, diperkirakan hasil replanting sebesar 25 juta m3/tahun. Pengembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan secara pesat. Pada tahun 1998 luas tanaman perkebunan sawit telah mencapai lebih dari 2,63 juta ha, sedangkan pada tahun 2003 luas perkebunan sawit telah mencapai lebih dari 4,93 juta ha. Data tersebut menunjukkan bahwa perluasan kebun sawit nasional dalam periode tersebut mencapai lebih dari 400.000 ha per tahun.

Saat ini telah dilakukan kerjasama Litbang Kehutanan dengan PT INHUTANI IV Riau dengan melakukan ujicoba pemanfaatan batang sawit untuk venir dan kayu lapis di pabrik PT Asia Forestama Raya, Rumbai, Riau. Kerjasama tersebut merupakan pioner dalam komersialisasi kayu sawit, sehingga hasil yang diperoleh akan menjadi dasar kebijakan dalam penyusunan prosedur pemanfaatan batang sawit dan mekanisme pengembangan industri kayu sawit. Bahan sawit yang digunakan dalam ujicoba terdiri dari dua kelas umur, yaitu tanaman sawit umur 22 dan 25 tahun, dengan volume kayu masing-masing 60m3 dan 40 m3. Kedua kelompok tanaman ini berasal dari areal perkebunan PTP Nusantara V, Riau.

Beberapa catatan hasil ujicoba tersebut yaitu :
1.Batang sawit dapat dimanfaatkan untuk pembuatan panel kayu lapis dengan
menggunakan fasilitas konvensional yang terdapat pada industri kayu lapis.
2.Percobaan produksi venir kayu menghasilkan rendemen venir basah dan kering,
masing-masing sebesar 67% dan 36%.
3.Perlakukan pemadatan (densifikasi) pada struktur venir kayu sawit dapat
mengurangi volume kayu sawit hingga 50%.
4.Rendemen venir maupun panel kayu lapis sawit lebih rendah dibandingkan
dengan rendemen produksi kayu dari hutan tanaman maupun kayu dari hutan rakyat.
5.Peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam pembuatan venir dan panel kayu
lapis sawit dapat dilakukan melalui beberapa modifikasi pada mesin dan
peralatan produksi.
6.Produk kayu lapis sawit memiliki nilai ekonomi relatif baik dibandingkan dengan
produk serupa yang terbuat dari kayu hutan tanaman.
7.Produksi venir dan kayu lapis sawit secara komersial perlu melibatkan pihak
perkebunan sebagai pemilik bahan baku. Hal ini perlu diperhatikan guna
memperoleh kepastian pasokan bahan baku, menghindari gangguan pihak ketiga,
serta minimasi biaya bahan baku.

Read More......